Wednesday, March 4, 2015

Interview with Producer "Battle of Surabaya"

Trailer animasi yang mengambil setting Agresi Militer I tahun 1945 ini telah mendapatkan nominasi Best Foreign Animation Trailer dalam 15th Annual Golden Trailer Award, dan juara di International Movie Trailer Festival (IMTF) 2013 untuk kategori People’s Choice Award. Kita patut memberikan MSV Pictures (STMIK Amikom Yogyakarta) apresiasi karena telah membawa nama Indonesia ke kancah Internasional.
Menurut Pak Yanto saat diwawancarai oleh Asa Rahmana:
"Battle of Surabaya memang dipersiapkan menjadi film animasi kelas dunia. Bahkan film ini sudah dilirik oleh Walt Disney. Dilihat dari segi pola cerita, Battle of Surabayamengikuti film box office Hollywood sebagaimana yang ia tulis dalam bukunya The Oscar Winners And Box Office: The Secret of Screenplay. Penggunaan pola tersebut merupakan salah satu tolak ukur sebuah film untuk dapat disebut “kelas dunia”. 

Apa yang mendasari kampus teknologi informasi seperti STMIK Amikom memproduksi film animasi “Battle of Surabaya”?
"Selama ini film animasi ciptaan orang Indonesia cenderung tidak memiliki karakter. Meskipun sebetulnya kita punya Si Unyil dan sebagainya. Kita ingin menciptakan yang lain, tetapi bukan yang kelasnya lokal.
Sebetulnya Battle of Surabaya itu kan film fiksi, tapi memiliki latar belakang sejarah. Saya sengaja tidak menokohkan Bung Tomo, Bung Karno dan sebagainya karena susah dicapai anak-anak. Nah, makanya saya menciptakan tokoh bernama Musa. Ia cuma anak kecil, semua orang bisa melakukannya. Dan itulah sebenarnya yang disebut pahlawan. Perjalanan Musa ini dramatis. Ada perjalanan jiwanya."
Musa seorang anak penyemir sepatu. Dari mana inspirasinya?
"Intinya sebetulnya adalah Musa itu orang biasa. Manusia punya yang namanya ego. Seseorang yang sudah bisa meninggalkan ego dari “aku” menjadi bermanfaat untuk banyak orang, itulah yang disebut pahlawan dalam versi kami. Jadi dengan seperti itu semua orang bisa jadi pahlawan. Ini tidak mudah, kebanyakan orang masih sibuk dengan egonya."
Film kelas dunia selalu digarap dengan melalui proses panjang dan riset, terutama yang berlatarkan sejarah. Bagaimana dengan riset “Battle of Surabaya”?
"Nah ini adalah fiksi dan ini adalah riset (sambil menunjukkan dua adegan dalam Battle of Surabaya). Organisasi Kipas Hitam, di dalam sejarah tidak ada, tapi menurut riset kami ada, maka di film ini kami tampilkan. Lalu ada tokoh lelaki misterius ciptaan kami. Begini caranya, dalam beberapa hal kami tidak boleh melenceng dari sejarah, misalnya adegan Soekarno, tidak boleh dipelesetkan (Pak Yanto lalu menunjukkan storyboard pembabakan Battle of Surabaya)."
Apa maksud gambar-gambar ini?
Inilah film Hollywood. Mesti dimulai dari ordinary world, lalu call to adventure, kemudian refusal of the callmeeting with mentor, crossing the first threshold, test ally or enemy, approach, or deal, reward, refusal of return, road back, resurrection climax, dan return with elixir. Nah, pola kita dalam menulis seperti itu. Ada perjalanan fisiknya, juga ada perjalanan jiwanya.
Bapak sendiri dalam menulis skenario film ini risetnya seperti apa, apakah dari buku,foto, video, atau interview langsung.
Ya, macam-macam, kalau untuk itu tim sudah ada. Tapi kalau buku, ya ini (‘The Oscar Winners And Box Office: The Secret Of Screenplay’, red.). Sejarah ya biasalah, kita semua sudah tau, belajar dari mana-mana, datang ke Surabaya sendiri.
Bapak juga melakukan riset ke Surabaya?
Oh, bukan saya, tapi tim saya. Jadi, saya sudah riset dari berbagai film box office, saya tulis dalam buku The Oscar Winners And Box Office: The Secret Of Screenplay. Inilah rahasianya cara menulis naskah film Hollywood. Jadi kita mengajari anak-anak untuk membeuat latar belakang sejarah yang benar, fiksinya boleh dibelok-belokkan.
(Suyanto kemudian menunjukkan kepada saya sebuah presentasi Power Point tentang bagaimana nilai ekonomi sebuah film animasi kelas dunia bisa mengalahkan harga sebuah pesawat terbang.)
STMIK Amikom sendiri dalam “Battle of Surabaya” melakukan investasi besar-besaran?
Ini bukan masalah harga diri Amikom, ini harga diri bangsa. Sekarang mana perusahaan (lokal, red.) yang sudah membuat film worldwide animasi? Belum ada. Ada, tapi hanya membuat pesanan televisi, dan namanya kita tidak ada kan? Indonesia tidak disebut-sebut. Nah ini, kita ingin membuat Indonesia disebut. Inilah roadmap-nya. Jadi nanti kita akan menjadi the center of world class animation movie.
20140530_Battle_Of_Surabaya_6Pasar film animasi tahun lalu 400 triliun. Dari situ US dan Canada mendapat 31%, sementara Indonesia hanya setengah persennya. Sehingga kalau kita hanya memasarkan film berbahasa Indonesia, kita cuma mendapatkan setengah persen. 99,5% ada di luar Indonesia. Itulah kenapa harus memakai Bahasa Inggris. Film live action di dunia itu ada 683, kalau film saya jelek, nomer 684. Sementara film animasi 2D ada 5, sejelek-jeleknya film saya, nomer 6. Cara berpikirnya begitu, jadi kelihatan. Apalagi kalau kita didistribusikan oleh Disney.
Tadi ada pertanyaan, karakternya bagaimana? Hollywood itu ada delapan, supaya lengkap saya tambah dua. Ada hero-nya: Musa. Ada mentor: Nenek. Ada herald, threshold guardian, shadow,shape shifter, allies, trixter, child. Itulah karakternya.
Untuk pembangunan karakter seperti apa? Maksudnya dari sisi psikologis, ruang, waktu, dan latar belakangnya.
Musa itu adalah anak yatim piatu yang tinggal dengan neneknya. Yumna adalah keturunan Tionghoa dari keluarga bahagia. Danu itu orang Indonesia tapi sikapnya berubah-ubah.
Jadi di sini juga ada pendekatan etnisnya?
"Oh ada, karena ini film untuk worldwide."
Saya melihat ada pengaruh yang besar dari animasi Jepang atau anime dalam hal visual dan artistik. Apakah itu memang dipilih dengan sengaja? Kenapa?
"Ya. Kenapa? Karena buku ini (The Oscar Winners And Box Office: The Secret Of Screenplay, red.). Jadi rahasianya adalah bagaimana kita bangun film ini dengan model culture ideation. Desain bisa Ghibli, tapi semua dasarnya budaya Indonesia."
Tidakkah ada keinginan untuk membuat animasi yang benar-benar menggunakan gaya Indonesia? Atau mungkin menemukan gaya baru yang tidak sepenuhnya berkiblat pada Disney atau Ghibli?
"Jawabannya begini, yang penting itu adalah ada culture, ada ideation, ada innovation. Karena yang saya pelajari di Taiwan tentang design production, jawabannya apa? Hollywood technic. Jadi tetap kita untuk teknik harus seperti itu, karena pasar yang besar itu. Pendekatan kita untuk awal adalah pasar dulu. Kalau kita sudah dikenal, mau seenaknya bebas.
Tapi yang penting sebenarnya, teknik itu harus Hollywood taste, tidak bisa tidak, supaya bisa diterima di seluruh dunia, dengan pola ceritanya dan pola sinematografinya. Untuk artistiknya sementara seperti itu. Kita harus paham bahwa film 2D terbaik itu bagaimanapun harus Ghibli. Kita mau menyaingi Ghibli. Besok."
20140530_Battle_Of_Surabaya_2Dalam sebuah film salah satu aspek yang paling penting adalah acting. Pendekatan macam apa yang dilakukan oleh tim “Battle of Surabaya’”dalam membangun pendalaman karakter?
"Untuk bisa membuat yang seperti ini, selain acting ada yang namanya sinematografi. Kalau bahasa saya, sinematografi itu adalah pemberdayaan kamera dan lighting untuk menangkap konsep ide yang tidak terucapkan dengan kata, tetapi dengan rasa dan pikiran. Nah, ini kan tekniknya harus bisa ditangkap. Itu kita pelajari. Kemudian tone, nada dari cahaya dan suara. Kemudian dinyatakan dalam bahasa visual yang melibatkan pikiran dan perasaan. Sehingga penonton seakan terlibat di situ."
Jadi menurut pendapat Bapak acting di dalam animasi termasuk ke dalam sinematografi?
"Ya, sebetulnya itu sendiri. Iya, kan? Itu bergantung pada animatornya. Mereka kita pandu. Kameranya harus seperti ini, seperti itu. Sehingga acting dapat tertangkap seperti tadi, dengan pemberdayaan kamera dan lighting."
Begitulah cakap Pak Yanto
Sumber:
http://news.indonesiakreatif.net/author/asa/




No comments:

Post a Comment